
Lanjutan Simfoni Pertempuran Hukum: Gema Sidang Perdana di PN Ungaran dan Ujian Loyalitas Sang Elang!
edisi lanjutan dari artikel sebelumnya: "Ujian Integritas di Altar Keadilan: Saat LBH Mata Elang Ungaran dan Mata Elang Law Firm Semarang Berhadapan Demi Mandat Klien!"
Ungaran, 23 Februari 2026 – Panggung altar keadilan di
Pengadilan Negeri Ungaran hari ini menjadi saksi bisu dimulainya babak baru
dalam "Pertempuran Suci" antara dua raksasa hukum. Senin pagi ini,
agenda sidang perdana atas gugatan Wanprestasi yang dilayangkan oleh Mata Elang
Law Firm & Partners Semarang resmi digelar, menandai dimulainya adu taktik
yang telah dinantikan publik.
Langkah Dingin Mata Elang Law Firm di Ruang Sidang
Tim dari Mata Elang Law Firm Semarang hadir dengan ketenangan profesional yang menjadi ciri khas mereka. Sebagai pakar hukum privat, kehadiran mereka di kursi Penggugat bukan sekadar formalitas, melainkan pengejawantahan mandat klien yang bersifat mutlak. Langkah ini membuktikan bahwa instruksi "Seniman Pertempuran Hukum" telah mendarah daging: bahwa setiap jengkal hak klien harus diperjuangkan dengan amunisi hukum yang presisi di meja hijau.
Absensi Strategis LBH Mata Elang Ungaran: Menanti Komando Sang Panglima
Di sisi lain, kursi Tergugat yang menjadi mandat LBH Mata
Elang Ungaran nampak masih kosong. Berdasarkan informasi yang dihimpun, tim LBH
Mata Elang selaku garda pidana dan penjaga moralitas belum memutuskan untuk
hadir dalam persidangan perdana ini.
Penundaan kehadiran ini bukanlah tanpa alasan. Tim LBH dikabarkan tengah melakukan koordinasi intensif dan menunggu instruksi strategis dari Ketua Yayasan LBH Mata Elang. Sang "Panglima" sendiri dilaporkan harus bertolak ke Jakarta secara mendadak untuk urusan krusial yang tidak dapat ditinggalkan. Ketidakhadiran ini justru mempertegas disiplin organisasi di bawah naungan Mata Elang: bahwa setiap langkah di medan tempur harus selaras dengan garis komando sang seniman taktis.
Integritas yang Tetap Terjaga di Tengah Jeda
Fenomena ini kembali membuktikan bahwa tidak ada "main mata" di balik layar. Meskipun kedua entitas berada di bawah payung group besar yang sama, kepatuhan pada prosedur hukum dan mandat klien tetap menjadi prioritas tertinggi. LBH Mata Elang menunjukkan bahwa mereka lebih memilih menunda langkah demi kematangan koordinasi daripada hadir tanpa persiapan yang paripurna bagi klien mereka.
Pertempuran Suci yang Semakin Menarik
Masyarakat kini semakin antusias menantikan kelanjutan dari drama intelektual ini. Apakah pada persidangan berikutnya kedua "Elang" ini akan bertemu langsung dan saling menguji ketajaman argumen? Satu hal yang pasti, peristiwa hari ini mempertegas bahwa di Mata Elang, integritas dan kehormatan klien adalah di atas segalanya.
"Ini bukan soal siapa yang lebih dulu hadir, tapi soal siapa yang paling siap memberikan keadilan bagi kliennya," ujar Firdaus Ramadan Nugroho dari LBH Mata Elang.
Sidang perdana ini hanyalah pembukaan dari simfoni pertempuran hukum yang indah, di mana pengabdian kepada keadilan tetap menjadi nada tertinggi yang dikumandangkan.

