
Dua Bulan Terkatung-katung! LBH Mata Elang Ambil Sikap Tegas Hentikan Mediasi Perkara Waris di PA Ambarawa
Ambarawa, 24 Agustus 2026 — Penegakan hukum dan kepastian
keadilan bagi masyarakat pencari keadilan tidak boleh tersandera oleh proses
yang berbelit-belit. Langkah berani, tegas, dan menginspirasi ditunjukkan oleh
tim penasihat hukum dari LBH Mata Elang dalam penanganan perkara sengketa
waris di Pengadilan Agama Ambarawa.
Setelah proses mediasi berjalan alot dan mengalami
ketidakpastian hingga memakan waktu dua bulan lamanya, LBH Mata Elang
secara resmi menyatakan sikap tegas untuk menghentikan proses mediasi dan
mendesak agar perkara segera dilanjutkan ke tahap pemeriksaan pokok perkara
di persidangan resmi.
Langkah ini diambil demi menjaga asas peradilan cepat,
sederhana, dan biaya ringan, sekaligus memberikan edukasi hukum penting bagi
masyarakat luas dalam memperjuangkan hak-hak keperdataan secara bermartabat.
Kronologi Sidang Senin 24 Agustus 2026: Mediator Absen, Mediasi Tertunda Lagi
Agenda persidangan pada Senin 24 Agustus 2026 di Pengadilan Agama Ambarawa sejatinya dijadwalkan untuk mendengarkan
kelanjutan iktikad baik perdamaian antarpihak. Tim advokasi dari LBH Mata
Elang hadir di Pengadilan Agama Ambarawa tepat waktu dengan kesiapan penuh
untuk mengawal hak-hak hukum Tergugat.
Namun, situasi di lapangan tidak berjalan sesuai rencana.
Hakim Mediator yang ditunjuk untuk memimpin jalannya mediasi berhalangan
hadir. Absennya mediator ini menambah panjang daftar penundaan proses mediasi
yang telah terkatung-katung selama kurang lebih dua bulan.
Melihat kondisi yang tak kunjung memberikan kepastian hukum, tim advokasi LBH Mata Elang langsung mengambil langkah proaktif. Ketidakjelasan agenda mediasi yang berlarut-larut dinilai hanya akan mengulur waktu dan merugikan kepastian hukum pihak yang dibela.
Komando Tegas Ketua LBH Mata Elang: "Cukup Mediasi, Masuk Pokok Perkara!"
Merespons dinamika di ruang pengadilan, Ketua LBH Mata
Elang memberikan arahan dan instruksi komando yang sangat tegas, lugas, serta
tidak bertele-tele. Melalui koordinasi cepat, Ketua LBH Mata Elang
menginstruksikan kepada tim advokasi di lapangan agar tidak membiarkan perkara
ini mengambang tanpa kejelasan.
Instruksi komando tersebut dijalankan secara presisi oleh Advokat Muhhamad Yusrial Yusuf, S.H. bersama anggota tim advokasi hukum LBH Mata Elang yang pada persidangan tersebut diwakili oleh Efriyan Rama Arindra (mahasiswa magang dari Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Surakarta/UMS yang mendampingi proses hukum di lapangan).

Di hadapan Panitera Pengadilan Agama Ambarawa, tim LBH Mata
Elang menyampaikan sikap hukum secara tertulis dan lisan: Menyatakan mediasi
gagal dan meminta persidangan dilanjutkan ke tahap pembacaan gugatan serta
pemeriksaan pokok perkara.
"Mediasi adalah sarana untuk mencapai kesepakatan damai yang adil dan berdasar hukum. Namun, jika prosesnya sudah berjalan hingga dua bulan tanpa ada titik terang dari pihak lawan, ditambah kendala teknis penundaan, maka demi kepastian hukum klien kami, kita harus bersikap tegas. Tidak ada alasan untuk menunda lagi. LBH Mata Elang siap bertarung membela hak-hak hukum Tergugat di ruang sidang pemeriksaan pokok perkara," tegas Advokat M. Yusrial Yusuf, S.H.
Pelajaran Hukum Berharga: Asas Peradilan Cepat, Sederhana, dan Biaya Ringan
Langkah berani yang diambil LBH Mata Elang di PA Ambarawa
ini menjadi momentum edukasi hukum yang sangat berharga bagi masyarakat. Dalam
dunia peradilan perdata maupun waris Islam di Indonesia, hukum acara menjamin
hak setiap pihak untuk mendapatkan kepastian hukum (legal certainty) dalam waktu yang makul.
Berikut adalah beberapa pelajaran penting dari sikap tegas
LBH Mata Elang yang dapat menjadi inspirasi bagi masyarakat pencari keadilan:
1. Mediasi Punya Batas Waktu, Bukan Alat Mengulur
Perkara
Berdasarkan PERMA No. 1 Tahun 2016 tentang Prosedur Mediasi
di Pengadilan, proses mediasi memang diwajibkan. Namun, mediasi bukanlah sarana
tanpa batas untuk mengulur waktu. Jika salah satu pihak tidak menunjukkan
kompromi yang berlandaskan hukum positif—dalam hal ini Kompilasi Hukum Islam
(KHI)—maka menghentikan mediasi adalah keputusan hukum yang sah dan
strategis.
2. Keberanian Mengambil Sikap Demi Kepastian Hukum
Banyak masyarakat awam merasa takut atau ragu untuk
mengambil keputusan tegas saat berperkara di pengadilan. Kehadiran Lembaga
Bantuan Hukum (LBH) yang responsif dan berani seperti LBH Mata Elang terbukti menjadi benteng pelindung yang memastikan masyarakat tidak dirugikan
oleh proses peradilan yang berlarut-larut.
3. Edukasi Praktis Bagi Generasi Muda Hukum
Pelibatan Efriyan Rama Arindra sebagai representasi akademisi muda dari FH UMS dalam mengawal keputusan strategis ini menjadi contoh nyata bagaimana pendidikan hukum klinis (clinical legal education) bekerja. Mahasiswa hukum tidak hanya belajar teori di ruang kuliah, tetapi juga ditempa untuk memiliki keberanian mental, ketegasan taktis, dan kepatuhan pada komando penegakan hukum di lapangan.
Siap Tempur di Pembuktian: Amunisi Eksepsi dan Jawaban Tajam Siap Meluncur
Dengan dinyatakannya proses mediasi selesai/tidak berhasil,
maka panggung penanganan perkara sengketa waris nomor 1172/Pdt.G/2026/PA.Amb
ini resmi berpindah ke meja hijau persidangan formal.
Tim LBH Mata Elang menegaskan bahwa mereka telah merampungkan
seluruh amunisi berkas persidangan, mulai dari Eksepsi (keberatan
hukum), Jawaban Gugatan dari pihak Tergugat, hingga persiapakan daftar alat bukti tertulis
dan saksi-saksi kunci.
LBH Mata Elang optimistis bahwa melalui pemeriksaan pokok perkara secara terbuka, Majelis Hakim Pengadilan Agama Ambarawa akan menilai perkara ini secara objektif berdasarkan fakta-fakta hukum dan aturan Kompilasi Hukum Islam (KHI) yang berlaku secara sah di Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Keadilan Harus Ditegakkan, Kepastian Hukum Harus Diraih!
Perjuangan LBH Mata Elang di Pengadilan Agama Ambarawa pada
Senin, 24 Agustus 2026, memancarkan pesan kuat bagi siapapun yang sedang
memperjuangkan hak hukumnya: Jangan pernah ragu untuk bersikap tegas demi
kebenaran!
LBH Mata Elang membuktikan komitmennya sebagai lembaga
bantuan hukum yang tidak hanya mendampingi secara formalitas, tetapi juga
berjuang secara totalitas, responsif, dan berorientasi pada kepastian keadilan
bagi masyarakat pencari keadilan.
Masyarakat kini menantikan jalannya persidangan lanjutan di Pengadilan Agama Ambarawa, di mana dalil-dalil hukum akan diuji secara terbuka dan transparan di hadapan Majelis Hakim.

